Selasa, 22 April 2014

POWATUA

POWATUA
Etimologi:
Po = tempat
Watua = bebatuan


Selayang Pandang


Powatua dikenal sebagai nama kampung yang mencakup 3 desa besar yaitu desa Winatu, Lonca dan Puro'o. Masing-masing berpenduduk kurang dari 1000 jiwa. Masyarakat dari suku Powatua menganut sistem kerajaan dan memeluk Agama Suku yang percaya pada benda-benda gaib dan roh-roh nenek moyang. Pada tahun 1800-an Kekristenan masuk, dibawa dan diperkenalkan oleh para Misionaris Belanda melalui Bala Keselamatan sehingga tidak heran bahwa di desa-desa tersebut hampir seluruhnya adalah warga Bala Keselamatan dan seluruh pelayanan seperti Sekolah-sekolah, Rumah Sakit/Puskesmas, dan Gereja adalah milik Bala Keselamatan. Tempatnya sangat jauh dari keramaian kota. 30-50 km jaraknya dari ibukota provinsi Sulawesi Tengah.Dapat ditempuh dengan kendaraan roda 4, roda 2 dan berjalan kaki. Tempat yang sejuk, jauh dari polusi. Tempat yang memiliki penduduk yang ramah tamah. 

Konon katanya meskipun desa-desa ini berjauhan, tetapi adat istiadat, kebiasaan, bahasa, dan nenek moyangnya berasal dari satu suku yang sama yang bermukim di Powatua (Toa) kampung lama. Akibat dari sempitnya lahan dan bertambahnya jumlah penduduk maka orang-orang tua pada jaman dahulu (sekitar tahun 1900-an) melakukan Transmigrasi ke daerah-daerah lain seperti Lonca, Winatu, Toro, Kulawi, bahkan sampai ke Kabupaten Poso di desa Napu, Besoa. Tak hanya itu, pemerintah juga mengadakan program pemerataan penduduk pada tahun 1970-an dan memindahkan beberapa penduduk Winatu dan Lonca ke daerah baru di dataran Lindu, desa Puro'o. Di sanalah budaya masyarakat telah berbaur dengan budaya setempat yaitu budaya Lindu baik melalui interaksi sosial maupun kawin silang yang terjadi antar-suku, Powatua-Lindu.

Masyarakat Powatua tidak hanya ada di desa-desa yang telah disebutkan di atas. Mereka berdiaspora atau merantau sampai ke kota-kota seperti kota Palu, Donggala, Parigi, Toli-toli, Manado, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Surabaya dan Semarang. Bahkan banyak di antaranya sudah memiliki kehidupan yang mapan di kota-kota tersebut dan tidak lagi memiliki tempat tinggal, sanak saudara yang dikenal di desa-desa tersebut. Salah satunya adalah saya sendiri.

Pada tahun 1980-an ayah saya beserta dua adik perempuannya memilih untuk merantau ke Kota Palu. Memulai kehidupan yang keras dan sukar tanpa satupun kenalan/kerabat. Mereka memilih untuk meninggalkan kampung halaman di Powatua-Winatu untuk bersekolah dan mencari pekerjaan demi mencari kehidupan yang lebih baik. Ayah saya pun harus meninggalkan bangku kuliahnya dan bekerja di salah satu Perusahaan Swasta demi membiayai kedua adik perempuannya yang pada waktu itu masih bersekolah dan berniat untuk kuliah di keguruan. Setelah kedua adik perempuannya menikah di kota Palu, ayah saya pun di usia 30-an akhirnya sedikit lega dan memilih untuk menikah dengan ibu saya yang juga "to Powatua" yang pada waktu itu juga bersekolah keguruan (SPG) di kota Palu.

Singkat cerita, maka lahirnya kakak saya yang pertama, saya sendiri dan kedua adik laki-laki saya di sini, di kota Palu, kota Para Perantau Powatua. Jadi kalau ditanyakan orang-orang. Kamu orang apa? Saya menjawab: "Saya orang Powatua yang lahir dan dibesarkan di Tanah Kaili".

Tidak ada komentar: